Di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Presiden Donald J. Trump menyampaikan pidato yang dengan cepat menjadi salah satu momen yang paling banyak dibicarakan di puncak tersebut, menghidupkan kembali kontroversi mengenai kekuatan global AS, ketergantungan Eropa, dan peran Amerika dalam membentuk dunia modern.
Berbicara di depan para pemimpin politik, eksekutif perusahaan, dan tokoh media dari seluruh dunia, Trump mengingatkan audiens akan peran Amerika dalam Perang Dunia II dan dampaknya, menyatakan dengan tegas:
“Tanpa kami, sekarang kalian semua akan berbicara dalam bahasa Jerman.”
Pernyataan tersebut, yang dibagikan secara luas secara online, diinterpretasikan oleh pendukung sebagai pengingat faktual tentang pengorbanan dan kepemimpinan AS, sementara para kritikus menyebutnya sebagai pengurangan sejarah dan inflamasi diplomatik.
Pidato Trump sangat berfokus pada apa yang dia deskripsikan sebagai kurangnya penghargaan dari negara-negara Eropa selama beberapa dekade dukungan militer, ekonomi, dan politik Amerika. Dia menggambarkan Amerika Serikat sebagai kekuatan pusat yang bertanggung jawab atas pemulihan pasca-perang Eropa, keamanan, dan stabilitas yang berkelanjutan.
“Kami telah membayar harganya,” kata Trump. “Kami membangun kembali Eropa. Kami melindungi Eropa. Dan sekarang kami diberitahu Amerika seharusnya hanya mundur.”
Presiden berargumen bahwa pembayar pajak AS telah menanggung beban yang tidak adil melalui pengeluaran pertahanan NATO, ketidakseimbangan perdagangan global, dan jaminan keamanan yang dia klaim menguntungkan Eropa secara tidak proporsional.
Salah satu momen paling kontroversial dari pidato tersebut melibatkan komentar baru Trump tentang Greenland. Dia sekali lagi menyarankan bahwa lokasi dan sumber daya strategis Greenland menjadikannya vital bagi keamanan nasional AS dan mempertanyakan mengapa pulau itu tetap di bawah kendali Denmark.
Trump mengisyaratkan bahwa realitas geopolitik era pasca-Perang Dunia II seharusnya menghasilkan Greenland menjadi bagian dari Amerika Serikat, sebuah klaim yang diperdebatkan oleh para sejarawan. Denmark secara konsisten menolak gagasan tersebut, dan pemerintah Greenland telah berulang kali menyatakan bahwa pulau itu tidak untuk dijual.
Pejabat Eropa bereaksi cepat, menegaskan kedaulatan Denmark dan mengungkapkan kekhawatiran atas apa yang mereka lihat sebagai retorika agresif dari Washington. Protes di Denmark dan Greenland telah meningkat sebagai respons terhadap pernyataan Trump, dengan para demonstran menekankan penentuan nasib sendiri dan menentang tekanan AS.
Meskipun ada reaksi balik, pendukung Trump berargumen bahwa pesannya mencerminkan frustrasi yang telah lama ada di dalam Amerika Serikat. Mereka berpendapat bahwa Amerika telah mensubsidi keamanan global selama beberapa dekade sementara sekutu menganggap dukungan AS sebagai hal yang biasa dan mengkritik Washington secara politik.
Di luar sengketa sejarah, Trump menggunakan panggung Davos untuk mempromosikan agenda ekonominya. Dia menyoroti peningkatan pendapatan tarif, menekankan manufaktur domestik, dan memperingatkan perusahaan asing bahwa akses ke pasar AS akan semakin bergantung pada investasi dan produksi di dalam Amerika Serikat.
“Kami ingin berdagang,” kata Trump. “Tetapi itu harus adil. Amerika tidak akan menjadi bank piggy dunia lagi.”
Pidato tersebut menekankan pergeseran yang lebih luas dalam nada hubungan AS–Eropa. Di mana pemerintahan sebelumnya menekankan kemitraan dan kepemimpinan bersama, Trump menyajikan pandangan transaksional tentang politik global, yang berpusat pada pengaruh, biaya, dan keuntungan nasional.
Analis mengatakan pidato Davos mencerminkan pandangan dunia yang lebih luas dari Trump: sejarah sebagai buku besar utang yang terhutang kepada Amerika Serikat, dan diplomasi sebagai negosiasi di mana kekuasaan harus diakui secara terbuka daripada disembunyikan secara sopan.
Apakah dipuji atau dikutuk, komentar Trump memastikan bahwa peran Amerika di dunia masa lalu, sekarang, dan mendatang tetap menjadi pusat perdebatan global saat pertemuan Davos berakhir.

