Pasar kripto sering **anjlok dengan keras** pada berita negatif (guncangan geopolitik, ancaman tarif, FUD regulasi, peristiwa risiko makro) karena masih merupakan **kelas aset yang sangat spekulatif dan terleverase** penuh dengan pedagang ritel, panggilan margin, dan likuiditas tipis. Ketakutan memicu likuidasi beruntun — posisi long dihapus terlebih dahulu, memperbesar penurunan.

Tapi berita positif? Jarang memicu kenaikan eksplosif yang sama. Kenapa?

- **Psikologi asimetris**: Berita buruk langsung memengaruhi kepercayaan → penjualan panik. Berita baik dinilai secara perlahan atau diabaikan sebagai "sudah diharapkan," "tidak cukup," atau "tunggu konfirmasi."

- **Mengambil keuntungan & over-leverage**: Bull biasanya sudah maksimal menunggu pompa, jadi hal positif mengarah pada "jual berita" daripada pembelian FOMO.

- **Risiko memerlukan katalis yang berkelanjutan**: Kripto membutuhkan banjir likuiditas yang luas (pemotongan suku bunga, QE, aliran ETF) untuk benar-benar melambung. Positif yang terisolasi (seperti tweet Trump yang meredakan tarif) sering kali hanya menstabilkan atau memberikan lonjakan kecil — bukan pemulihan parabolik.

- **Pola sejarah**: Lihat drama Greenland baru-baru ini — ancaman tarif menjatuhkan BTC 3-5%+ beberapa kali di tengah ketakutan "Jual Amerika" dan likuidasi. Ketika Trump memposting "kesepakatan kerangka" dan menurunkan tarif, pasar pulih... tetapi itu adalah reli kelegaan, bukan lari ATH baru. Kripto pulih sebagian tetapi tidak meledak ke atas seperti kaki ketakutan yang turun.

Intinya: Kripto terprogram untuk **bereaksi berlebihan terhadap risiko penurunan** (beta asimetris terhadap ketakutan) dan **kurang bereaksi terhadap kenaikan** sampai kondisi makro sejalan sempurna. Itulah sebabnya ia runtuh dengan cepat pada berita buruk dan merangkak (atau terhenti) pada yang baik.

DYOR, bukan nasihat keuangan — tetapi grafik tidak berbohong. 🚀➡️💥 jauh lebih mudah daripada 💥➡️🚀